-Bekasi Kota-

RSUD Chasbullah Abdul Majid Kota Bekasi yang terletak di pusat kota sesuai mapping perkotaan jaman dahulu dimana instansi-instasi vital saling berada berdekatan. RSUD CAM yang berdekatan dengan Polres, Pengadilan, Kejaksaan dan Kodim tepat berada di belakang kantor Pemkot Bekasi. Kamis(18.11/2021) sore, jurnalis berkesempatan mengunjungi RSUD yang pada masa tingginya pandemi covid-19 sempat membuka tenda dilapangan parkir oleh karena banyaknya penduduk yang terjangkit virus mematikan tersebut.

Ada yang unik dengan penampakan RSUD CAM sekarang, ada gerai waralaba dan cafe mobile yang menurut informasi yang diterima oleh jurnalis dikelola oleh koperasi karyawan RSUD. Menarik dan menjadi satu terobosan yang juga bisa dicontoh RSUD dikota lain dimana kesan RSUD biasanya terkesan angker dan selalu bearoma duka, dengan adanya gerai kopi dan waralaba sedikitnya merubah image tersebut menjadi lebih bersahabat dan bisa mengobati stress para keluarga atau pengunjung RSUD yang sedang berobat atau dirawat ditempat tersebut.

Para pengunjung cafe pun saling bertukar cerita baik duka maupun suka mengenai kisah-kisah yang terjadi diseputar ruang rawat inap RSUD CAM Kota Bekasi. Ada hal yang membuat jurnalis tertegun dan simpati saat salah seorang pengunjung bercerita tentang kisah anaknya yang dirawat diruang inap perina. Kisah pilu dan gembira tergambar dari cerita tersebut, jurnalis akhirnya berhasil mendekati bapak tersebut dan menggali ceritanya mengenai kejadian yang dia alami.

“Saya sudah pasrah dan ikhlas dengan kondisi anak saya, tadinya saya beserta istri sudah sepakat akan membawa pulang bayi, tapi kemudian tidak di-izinkan oleh seorang Dokter karena bisa membahayakan nyawa sang bayi, dan alhamdullilah Dokter tersebut memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, ungkap si bapak yang tidak mau disebut namanya, terlihat jelas bapak itu meneteskan air mata haru atas kebijakan pimpinan unit atas nama Direktur dan Pemerintahan Daerah sebagai kota ramah terhadap kehidupan anak.

Mendengar hal tersebut, jurnalis akhirnya memutuskan untuk menemui dokter yang dimaksud sebagai cover boothside berita. Dokter yang juga tidak mau disebut namanya menerangkan kejadian yang dialami dari kondisi bayi tersebut.

“Bayi tersebut masih dalam keadaan lemah, kalau dipaksakan pulang tanpa adanya perawatan maka bisa dipastikan akan tambah lemah dan tidak tertutup kemungkinan bisa menyebabkan kematian. Kebenaran orang tua bayi juga punya kendala ekonomi dan dokumen pendukung yang minim sehingga tidak bisa dicover oleh biaya kesehatan. Oleh sebab itu, tadi saya larang dan saya bersedia menanggung biaya untuk bayi tersebut karena empati kemanusiaan terhadap keluarga tersebut”, terang sang Dokter dengan lugas.

Dokter tadi juga memaparkan bahwa diruangan inap bayi, ada satu bayi juga yang baru lahir tanpa kejelasan orang tua, bayi sehat yang diantar oleh sebuah klinik kesehatan kemudian dirawat dengan baik. Saat jurnalis menanyakan bagaimana nasib sang bayi tanpa orang tua kedepan nya, Dokter pun menjawab bahwa kemungkinan besar pihak rumah sakit akan bekerja-sama dengan Dinas Sosial terkait bayi terlantar itu. “Pelayanan di RSUD CAM dalam segala lini mengutamakan kemanusiaan, ini bisa dilihat dari Ruang Gawat Darurat sebagai pintu masuk rawat inap di RSUD, dan Kota Bekasi menjadi Kota yang Ramah Anak dalam penatalayanan nya”, pungkas sang Dokter.

Hari Premature Sedunia yang jatuh pada tanggal 17 November, sedianya banyak menceritakan kisah-kisah sedih bayi-bayi yang di Indonesia. Sekelumit cerita diatas menerangkan bahwa perlunya kesadaran yang tinggi dari masyarakat mengenai kesehatan dan masa depan yang dibutuhkan para bayi yang lahir. Dan rasa kemanusiaan dari tenaga kesehatan juga bisa menjadi satu inspirasi bahwa empati kemanusiaan bisa menyelamatkan banyak kehidupan khususnya kepada pasien bayi maupun jenis usia lain pada umumnya. Semoga kejadian diatas membawa hikmah dan bisa juga terjadi ditempat lain. Semoga… (Dmach)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here