-Profile-

Tiffanya Shakilla Ayu Airasyanda Pradnya Paramitha Nama Lengkap Sang Pilot Air Asia Airlines, Dara berparas cantik kelahiran Salatiga 25 Mei 1990. Bungsu dari 3 Bersaudara Keluarga Dr Hernawan ini lulus SMU 2009 dan sempat mengenyam bangku kuliah selama 2 semester di UNS Solo Fakultas Kedokteran, mengikuti jejak Orang-tuanya dan kedua Kakaknya walau kuliah tersebut tak berlangsung lama sebab cita-cita awalnya menjadi seorang Pilot tak bisa lagi dibendung.

Cita-cita tersebut bermula dari sejak ‘Nona’ (panggilan akrab Tiffanya) masih berusia Balita, kala itu sibungsu Nona sering bepergian mengikuti kedua orang-tuanya dengan menggunakan pesawat terbang dan ada kebiasaan unik yang kerap terjadi, sebelum start engine pesawat dilakukan maka Nona kecil selalu harus masuk ke Cockpit (ruang khusus Captain/Pilot) dan apabila hal tersebut tidak terjadi maka ‘Nona kecil’ akan menangis sejadi-jadinya, ditambah lagi dengan sebuah kesenangan nya melihat sesuatu dari atas, hal-hal tersebutlah yang membuat ‘Nona kecil’ bercita-cita agar besar kelak bisa menjadi seorang pilot yang bisa bepergian ke negara mana saja, keinginan ‘Nona kecil’ ini juga disampaikan kepada Papinya dan Sang Papi membolehkan seraya berpesan agar Nona kecil rajin mempelajari bahasa Inggris yang memang merupakan bahasa sehari-hari juga dirumah, Nona kecilpun melakukan anjuran tersebut dan membuatnya senang membaca kamus bahasa yang akhirnya bukan hanya bahasa Inggris saja yang Ia kuasai melainkan bahasa Jerman, Tagalog dan Mandarin pun di kuasai secara otodidak olehnya.

Saat Nona (Tiffanya) menjalani kuliah semester 2 fakultas kedokteran kala itu tahun 2010, Dia mendengar ada penerimaan Pramugari disalah satu maskapai penerbangan tanah-air, Ia mengikuti secara diam-diam dan berhasil lolos dari ribuan pendaftar yang ada, “Aku belum training walau sudah diterima dan kemudian Aku ikuti lagi pendaftaran di Air Asia waktu itu di Jogja dan Aku diterima juga, akhirnya Aku memutuskan bergabung di Air Asia dan ditraining serta bekerja kurang lebih 3bulan di Jakarta dan kemudian karena kemampuanKu menguasai berbagai Bahasa, Aku dipromosikam bekerja di Air Asia Malaysia, saat itu kedua orang-tuaku belum mengetahui Aku sudah bekerja menjadi Pramugari di Jakarta, Mereka menjenguk ke kostku dan mendapat info bahwa Aku sudah bekerja menjadi Pramugari dari teman kostku dan tinggal di Jakarta, saat itu juga Mereka terbang ke Jakarta dan mencari keberadaanku di bandara yang akhirnya bertemu dan memarahiku, Mereka marah karena Mereka ingin Aku mengikuti jejak Mereka, syukurlah setelah Aku utarakan apa yang menjadi keinginanku akhirnya orang-tuaku mengerti dan menerima serta ikhlas sambil tetap was-was karena resiko dari pekerjaan ini adalah nyawa yang menjadi taruhannya bahkan sampai saat ini bila Aku bepergian, Mama selalu menelponku satu jam sekali”,kenang Tiffanya.

“Singkat cerita setelah 2 tahun Aku menjadi Pramugari ditahun 2012, Aku mendaftar di sekolah pilot di Malaysia Flying Academy (MFA) dan diterima tapi pas melihat nominal biaya kewajiban yang harus dibayarkan membuatku ciut melihat banyaknya nominal angka yang harus dibayarkan tapi akhirnya orang-tua dapat pemberitahuan dari kampus kalau Aku diterima dan harus membayar kewajiban,Mereka kaget karena batas pembayaran tinggal seminggu, akhirnya orang-tua datang ke Malaysia menanyakan beneran ini? Aku menjawab iya dan Merekapun ke kampusku untuk tanda tangan mengijinkan anak perempuannya kuliah
pendidikan 2 tahun dan karena Aku semangat, kuliah tersebut aku tempuh kurang dari 2 tahun, November 2014 Aku lulus dan mulai bisa setir pesawat terbang lokalan sekitar Malaysia”, ungkap Tiffanya.

Ada kenangan yang tak terlupakan serta yang paling berkesan yang diceritakan Tiffanya kepada Kami, “Saat itu, Aku baru pertama kali terbang dengan rute jauh yaitu Sidney Australia, jarak tempuh 8 jam, sewaktu 1 jam mau landing Captain Pilot memberitahuku bahwa ada yang Aku kenal di cabin penumpang, setelah landing ternyata Aku baru tau bahwa pesan Captain Pilot bahwa yang Aku kenal di kabin itu ternyata kedua orang-tuaku.. Surprise sekali, Aku diciumin oleh Mereka dan dipuji, Mamaku bilang bangga dengan Aku karena bisa mendaratkan pesawat dengan baik, senang dan terharu mendengarnya”, ujar Tiffanya, dan menambahkan bahwa Papinya berpesan agar jangan sampai melupakan Sholat dan tetap low profile, jauhkan rasa sombong dan dengki.

Dara blasteran Sunda-Jerman yang berkulit putih berpostur ideal dengan tinggi 178cm/68kg ini juga mempunyai hobby lain selain mengendarai burung besi yaitu menjadi model atau objek photo pada beberapa agency, makan dan travelling adalah hobby sang pilot cantik ini, gadis yang menyukai film kungfu Jackie Chan dan Jetlee ini juga menyenangi musik pop, Tiffanya mempunyai warna favorite hitam dan putih dan cita-citanya kedepan adalah bisa bersekolah kembali menjadi Captain Pilot dengan biaya sendiri serta bisa membingkai mahligai rumah tangga dengan kekasihnya kelak, multi talent dan keberanian disertai rasa tanggung jawab tercermin dari pribadi ini, semoga generasi muda Indonesia bisa bercermin dari hal tersebut, keep shine and succes Tiffanya, sukses selalu dalam menggapai asa.(Mac).


– Medio Februari 2017 –

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here